Kamis, 02 Mei 2013
Sabtu, 20 Agustus 2011
Masalah Siswa di Sekolah
Oleh: Rumli, S.Pd.I
Siswa di sekolah dan madrasah sebagai manusia (individu) dapat dipastikan memiliki masalah. Tetapi kompleksitas masalah yang dihadapi oleh individu yang satu dengan yang lain tentulah berbeda. Siswa di sekolah dan madrasah akan mengalami masalah-masalah yang berkenaan dengan, diantaranya, pertama perkembangan individu. Kedua perbedaan individu dalam hal: kecerdasan, kecakapan, prestasi, bakat, sikap, pengetahuan, cita-cita, kebutuhan hidup, ciri jasmaniah dan latar belakang lingkungan. Ketiga, kebutuhan individu dalam hal : memperoleh kasih sayang, memperoleh harga diri, ingin penghargaan yang sama, ingin dikenal, merasa bagian dari kelompok, dan rasa aman. Keempat, masalah belajar.
Perkembangan individu mencakup seluruh kepribadian siswa yang terdiri atas banyak aspek yang saling berkaitan seperti fisik, intelek, social dan afektif. Aspek fisik meliputi tinggi dan berat badan, panca indera, postur tubuh, keterampilan fisik, hormon dan ketahanan. Aspek intelek atau kognitif mencakup kecerdasan, bakat, cakap, baik kecakapan di sekolah maupun kerja. Aspek sosial meliputi berbagai kecakapan dan keterampilan berhubungan dengan orang lain, seperti bekerjasama, memimpin, berkomunikasi dan aktivitas keseharian lainnya. Aspek afektif terdiri atas sikap, minat, keindahan, moral, emosi, motivasi dll.
Aspek-aspek tersebut secara berkala akan terus berubah dan perkembangannya selalu berinteraksi satu sama lain membentuk satu kesatuan (integrasi). Integrasi ini bisa terjadi secara alamiah, tetapi kebanyakan melalui proses belajar baik otodidak maupun dengan pihak lain (orang tua, guru, ustadz, dan para pendidik lainnya). Integritas perkembangan tidak selalu berjalan mulus. Sering mengalami hambatan, gangguan dan kesulitan atau mengalami masa kritis. Masa degil, masa avorturir dan masa pubertas.Masa-masa ini dapat terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik dan perlakuan yang salah dari para pengajar.
Masa degil terjadi pada usia lima sampai enam tahun, anak mulai memperlihatkan perilaku keras kepala, sukar diperintah, tidak patuh dan berkata kasar. Masa avorturir terjadi pada usia sebelas sampai dua belas tahun. Anak mulai senang “dolan” jalan-jalan, piknik, kemah. Pada masa ini mereka bersama kelompoknya senang berada di luar rumah.
Masa pubertas berada pada usia tiga belas sampai tujuh belas tahun, puncaknya pada usia lima belas sampai tujuh belas tahun. Masa gejolak “strum und drang”. Emosi remaja sangat labil mudah sekali berubah, kaya dengan fantasi dan cenderung irrasional.
Perhatian terhadap jenis kelamin lain menjadi ciri utama pada masa ini. Upaya menarik perhatian lawan jenis sangat besar. Masa ini merupakan masa yang paling rawan dalam perkembangan anak dan remaja. Kalau melewati masa ini dengan baik, tanpa terjerumus kepada hal yang negative, mereka akan menjalani perkembangan selanjutnya dengan mulus dan lancar.
Untuk membantu anak-anak remaja dalam pengembangan kepribadiannya yang terintegrasi secara harmonis, dan atau mengatasi goncangan psikis terhadap pengaruh negative dari lingkungan dibutuhkan bantuan layanan bimbingan dan konseling khususnya siswa di sekolah/madrasah. Wallahualam bissawab
Label:
Pendidikan
Rabu, 17 Agustus 2011
Detik - Detik Proklamasi di Yayasan Ibu Hj. Chodijah (Yabujah)
Yayasan Ibu Hj. Chodijah (Yabujah) pada hari ini tanggal 17 Agustus 2011 menggelar Upacara Bendera Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66 tahun sebagai wujud penghormatan kepada para pejuang yang telah rela berkorban demi bangsa dan negara yang dilaksanakan di halaman Kampus Putih Yabujah Segeran Juntinyuat Indramayu. Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa tepatnya jam 07.30 siswa/siswi SMP Yabujah, SMA NU Juntinyuat dan SMK Yabujah berduyun - duyun kelapangan untuk mengikuti upacara bendera dengan Inspektur Upacara Ahmad Fauzan, M.Pd.I, selaku Kepala SMP Yabujah dalam sambutanya mengatakan bahwa pada bulan ini terjadi dua peristiwa yang sangat besar diantaranya Malam Nuzulul Qur'an dimana Al Qur'an pertama kali diturunkan ke bumi melalui Nabi Muhammad SAW. diturunkannya Al-Qur'an dan turunnya para malaikat pada malam diturunkannya Al-Qur'an, informasi bahwa malam diturunkannya Al-Qur'an adalah lebih [dan paling] utama dibanding malam-malam atau hari-hari lainnya. Dan yang kedua adalah 17 Agustus tahun 1945. Tahun yang bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Tahun yang tak akan pernah terlupakan dalam benak seluruh bangsa. Saat itu bangsa di bawah komando Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muh. Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia telah menjadi negara yang berdaulat, memegang dan mengatur negera sendiri. Merdeka dari cengkraman kekuasaan penjajah yang telah menjajah selama ratusan tahun lamanya. Proklamasi kemerdekaan juga sebagai bentuk pengakuan kepada dunia bahwa segala bentuk penjajahan tidak sesuai dengan hak asasi manusia sehingga harus dihapuskan dari permukaaan bumi. Ratusan tahun Indonesia dijajah. Telah mengalami banyak penderitaan. Telah bosan dengan berbagai kesengsaraan karena tindasan para penjajah.
Upacara Bendera juga diikuti oleh Kepala SMA NU Juntinyuat Burhanudin, M.Pd.I dan Kepala SMK Yabujah Asrorudin, M.Pd.I juga dihadiri oleh para Dewan Guru SMP/SMA/SMK dan Karyawan, acara upacara berlangsung sangat khidmat karena cuaca juga sangat mendukung dengan suasana mendung.
Salam Merdeka...!!!
(Bram/Dhe/Zie)
Label:
Kegiatan
Minggu, 07 Agustus 2011
SMA NU Juntinyuat Menggelar Pesantren Intensif Ramadhan 1432 H.
Hmmmm....Gak terasa ya puasa udah 1 minggu, nah dalam bulan puasa ini juga SMA NU Juntinyuat gak mau ketinggalan akan mengadakan Pesantren Intensif Ramadhan 1432 H, Untuk lebih meningkatkan ke Taqwaan dan ke Imanan kita dalam menjalankan ibadah puasa yang penuh rahmat dan berkah, maka di Bulan Ramadhan 1432 H untuk siswa / siswi SMA NU Juntinyuat pada hari senin, 8 Agustus 2011 dengan materi, Tadarrus Al Qur'an, Puasa dan Keistimewaanya, Akhlakul Banin, Fiqih, Ilmu Al Qur'an, Risalatul Mahid dan Ta'lim Muta'alim. Dengan pemateri Ust. Muchlisin, Ust. Mas'ud, K Bazari dll.
Menurut Kepala sekolah SMA NU Juntinyuat, Burhanudin, M.Pd.I “Tujuan puasa adalah mengekang diri dari hawa nafsu dan menundukkannya, mendapatkan kesenangan dan kenikmatan hakiki serta kehidupan yang suci dan abadi, turut merasakan lapar dan dahaga yang teramat sangat agar peka terhadap rasa lapar kaum fakir miskin, mempersempit jalan setan dengan mempersempit jalur makan dan minum, mengontrol kekuatan tubuh yang begitu liar karena pengaruh tabiat sehingga membahayakan kehidupan dunia dan akhirat, menenangkan masing-masing organ dan setiap kekuatan dari keliarannya, dan menali-kendalinya. Sebab puasa merupakan tali kendali dan perisai bagi orang-orang yang bertakwa serta training (penggemblengan) diri bagi orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT.” (bram)
Label:
Kegiatan
Sabtu, 14 Mei 2011
Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Asean ??
Wacana agar mendorong Bahasa Indonesia menjadi Bahasa ASEAN kembali mengemuka dalam perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara itu tahun ini.
Melalui sejumlah wawancara terpisah di beberapa tempat, Jumat, ANTARA menanyakan tentang harapan masyarakat dalam momentum keketuaan ASEAN Indonesia tahun ini, terutama tentang perwujudan semboyan “satu visi, satu identitas dan satu komunitas”.
“Indonesia kan sedang menjadi Ketua ASEAN tahun ini, makanya harus bisa memanfaatkan momentum tersebut untuk mengusung Bahasa Indonesia menjadi Bahasa ASEAN,” kata seorang pensiunan pegawai negeri sipil, Mahmud Rustam (62), ketika diwawancarai oleh ANTARA, Jumat.
Mahmud mengakui akan adanya kendala dalam menerapkan Bahasa Indonesia sebagai identitas ASEAN itu, karena perbedaan latar belakang sosial dan budaya masyarakat ASEAN, namun hal itu tetap harus diupayakan untuk mewujudkan hubungan antarmasyarakat ASEAN setelah terbentuknya Komunitas ASEAN 2015.
Mahmud yang mengaku belum pernah mendengar konsep Komunitas ASEAN 2015 itu berharap kelompok regional Asia Tenggara itu akan lebih mengutamakan kerja sama ekonomi daripada dua pilar lainnya, sosial budaya serta politik, pertahanan dan keamanan.
“Saat ini yang terpenting adalah menyejahterakan rakyat melalui ekonomi yang kuat, keamanan dan sosial itu bisa menyusul,” kata Mahmud.
Senada dengan harapan itu, seorang pegawai negeri sipil yang bekerja di Jakarta, Yuwono Ario (24), mengatakan Bahasa Indonesia dapat digunakan sebagai bahasa ASEAN karena digunakan oleh lebih dari sepertiga penduduk ASEAN.
“Kalau dilihat dari jumlah populasinya, Indonesia kan populasinya lebih dari sepertiga total populasi negara-negara ASEAN,” kata Yuwono ketika dijumpai usai bekerja, Jumat.
Yuwono menyarankan ASEAN harus menggeser peran ke arah ekonomi, sehingga mampu menghadapi geliat raksasa ekonomi China yang melakukan penetrasi secara besar-besaran, terutama ke wilayah Asia Tenggara.
“Sebaiknya peran ASEAN bergeser ke arah ekonomi, bersatu untuk menghadapi gempuran dari China dan melakukan pemerataan kesejahteraan terhadap seluruh negara anggotanya,” kata Yuwono.
Seorang karyawati perusahaan swasta di Jakarta, Dinda Saraswati (29), juga setuju jika Bahasa Indonesia menjadi bahasa ASEAN, karena akan menambah kebanggaan tersendiri bagi rakyat Indonesia.
“Mungkin dengan Bahasa Indonesia menjadi bahasa ASEAN, warga negaranya bisa lebih menghargai Bahasa Indonesia, dan kita jadi bangga menggunakan bahasa yang dipakai di seluruh ASEAN,” katanya.
Dinda juga mengemukakan pendapatnya tentang perlunya menciptakan satu mata uang bersama bagi negara ASEAN, sehingga setiap negara memiliki standar yang sama.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Marzuki Alie, sempat mengusulkan agar Bahasa Indonesia dijadikan salah satu bahasa resmi yang digunakan dalam pertemuan-pertemuan negara ASEAN dalam sesi pleno pertama Sidang Umum ke-31 ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA) di Hanoi, Vietnam, 21 September 2010.
“Penggunaan Bahasa Indonesia akan membuka kesempatan kepada bahasa lain untuk menjadi bahasa kerja dalam AIPA,” kata Marzuki pada saat itu.
Usul mengenai penggunaan Bahasa Indonesia dalam sidang-sidang AIPA telah mengemuka sejak awal kedatangan Delegasi DPR RI ke Hanoi, Vietnam.
Pada 20 September lalu, dalam pertemuan Komite Eksekutif AIPA, Indonesia telah menyampaikan usulannya untuk mengamandemen statuta AIPA agar Bahasa Indonesia masuk dalam bahasa kerja AIPA selain Bahasa Inggris.
Namun, seorang mahasiswa S2 salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, Arisman Muhammad (24), cenderung melihat tidak adanya sebuah identitas yang dapat menunjang integritas, termasuk satu bahasa tunggal, karena budaya negara anggota ASEAN memiliki karaktistik yang unik.
“Secara ekonomi, Malaysia dan Singapura jauh lebih unggul, serta dari segi pandangan politik, ada negara yang memiliki perbedaan dengan yang lainnya, sehingga identitas tunggal akan sulit tercapai,” katanya.
Pada sejarahnya, Indonesia sendiri menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional guna mempersatukan beraneka bahasa yang berasal dari beragam suku bangsa di seluruh tanah air.
Menurut seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Indonesia, Andri Hadi, saat ini ada 45 negara yang mengajarkan Bahasa Indonesia, di antaranya Australia, Amerika, Kanada, dan Vietnam.
Mengambil contoh Australia, pejabat itu menjelaskan, bahkan di Australia Bahasa Indonesia menjadi bahasa populer keempat.
“Ada sekitar 500 sekolah mengajarkan Bahasa Indonesia, sehingga anak-anak kelas enam Sekolah Dasar sudah ada yang bisa berbahasa Indonesia,” kata Andri beberapa waktu lalu.
Sementara di Vietnam, Pemerintah Daerah Ho Chi Minh City, telah mengumumkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua secara resmi pada bulan Desember 2007, kata seorang diplomat Indonesia.
“Bahasa Indonesia sejajar dengan Bahasa Inggris, Prancis dan Jepang sebagai bahasa kedua yang diprioritaskan,” kata Konsul Jenderal RI di Ho Chi Minh City untuk periode 2007-2008, Irdamis Ahmad beberapa waktu setelah peresmian itu.
Vietnam sendiri merupakan anggota ASEAN pertama yang menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kedua di negaranya.
Momentum Indonesia sebagai Ketua ASEAN terbukti menyimpan harapan sebagian masyarakat agar dapat mendorong penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ASEAN.
Layakkah Bahasa Indonesia menjadi Bahasa ASEAN?
Sumber:http://namakugusti.wordpress.com/2011/05/07/bahasa-indonesia-jadi-bahasa-asean/
Label:
Berita






